Masyarakat Indonesia di Wina Peringati Harkitnas Dengan Diskusi Terbuka
2 11 2008Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Wina menggelar diskusi terbuka dengan masyarakat Indonesia setempat dengan tema “Kemandirian Bangsa Indonesia di Tengah Perkembangan Dunia”, Sabtu (31/5).
Diskusi diselengarakan dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional dan 100 Tahun Hari Kebangkitan Nasional. Kegiatan ini mendapat sambutan positif baik dari kalangan mahasiswa dan masyarakat Indonesia di Wina, tercermin dari antusiasme para hadirin dalam memberikan tanggapan dan masukan yang bermanfaat.
Dalam kesempatan tersebut, Duta Besar RI Wina, Triyono Wibowo, menyampaikan paparan umum yang kemudian ditanggapi oleh tiga penangggap dari berbagai kalangan warga Indonesia di Wina, yaitu Ali Nasir, Ikaputra, Muhammad Takdir, dan Sugeng Haryanto sebagai moderator.

Triyono Wibowo, Dubes RI di Wina, penanggap dan moderator. (KBRI Wina)
Para peserta diskusi menyimak paparan Dubes Triyono W. (KBRI Wina)
Sesuai dengan tema Harkitnas 2008, Harkitnas 2008 sebagai bagian dari peringatan 100 tahun kebangkitan bangsa, Duta Besar memaparkan pentingnya pendidikan dalam memajukan bangsa. Meskipun secara geografis jauh dari Indonesia, warga Indonesia di Wina harus tetap merasa dekat dengan persoalan yang dihadapi bangsa. Beliau juga mengutip pidato Presiden RI untuk peringatan Harkitnas ke-100 yang menekankan tiga syarat fundamental yang harus dibangun dan dimiliki agar menjadi bangsa yang berhasil, yaitu kemandirian, daya saing, dan peradaban bangsa yang tinggi. Guna mencapai ketiga hal tersebut, pendidikan dipandang sebagai sumber dari segala sumber keberhasilan.
“Bangsa Indonesia sebenarnya telah mengalami enam kali kebangkitan nasional,” kata Ikaputra, Ketua Program Arsitektur Program Pascasarjana Universitas Gajah Mada.
Pertama, pada akhir abad 19 melalui pergerakan Raden Ajeng Kartini. Kedua, pada tahun 1908 saat berdirinya Budi Utomo. Ketiga, tahun 1928 dengan kebangkitan para pemuda yang menekankan integritas bangsa. Keempat, tahun 1945 melalui proklamasi kemerdekaan. Kelima, tahun 1968 yang membawa pembangunan ekonomi dan stabilitas politik. Keenam, tahun 1998 yang membawa era reformasi.
Mengingat semua kebangkitan ini didorong oleh kaum atau ide intelektual, Ikaputra setuju bahwa pendidikan merupakan hal terpenting dalam membangun bangsa ini. Aspek khusus yang perlu disoroti adalah perlu ditingkatkannya daya saing nasional dalam pendidikan tinggi dan dijembataninya kesenjangan besar antara wilayah Indonesia Barat dan Timur.
Ali Nasir, legal adviser International Matters OPEC, juga menekankan pentingnya perhatian pada pendidikan dan keprihatinannya pada kecilnya porsi APBN untuk pendidikan. Pada saat yang bersamaan, ia mengingatkan bahwa dalam forum terbuka Presiden RI telah bersikap sangat optimis dalam menyikapi kemungkinan Indonesia mengatasi krisis pangan dan energi serta menjadi negara maju.
Selain masalah pendidikan, Muhammad Takdir menyoroti perlunya meningkatkan kemandirian bagsa Indonesia melalui reinventing sifat alamiah Indonesia, yaitu kembali memberi perhatian besar pada pembangunan pertanian sebagai negara agraris dan pada konsep kelautan sebagai negara maritim. Ia mengajak hadirin untuk belajar dari politik balas budi Belanda pada awal abad 20 yang menerapkan irigasi, emigrasi (transmigrasi) dan edukasi bangsa Indonesia. (Dinas Informasi dan Diplomasi Publik KBRI Wina)
Sumber : http://www.kebangkitan-nasional.or.id/index.php?mod=berita&id=52
Categories : ArKeNas























Komentar